Jumat, Februari 18, 2011

Kegagalan IT

Diposting oleh erk_chubz di 19.45
Berdasarkan pengalaman saya sendiri dan hasil diskusi dengan teman-teman yang bergerak di bidang TI, proyek pengembangan perangkat lunak sangatlah jarang tepat waktu. Namun hal ini untuk saya bukanlah hal yang mengejutkan karena pada saat kuliah dulu saya mendapatkan informasi bahwa pada tahun 1980 angka rata-rata kegagalan proyek pengembangan perangkat lunak di Amerika serikat adalah 80%. Karena penasaran saya mencoba melihat-lihat data survei yang ada sekarang ini.

Ternyata dalam berbagai survei, angka 70% merupakan angka rata-rata kegagalan proyek TI. Standish Group menyatakan hanya 10% perusahaan yang berhasil menerapkan ERP, 35% proyek dibatalkan dan 55% mengalami keterlambatan. Meta Group menyatakan 55%-75% proyek CRM gagal. CRM Forum menyatakan lebih dari 50% proyek CRM di Amerika Serikat, dan lebih dari 85% di Eropa dianggap gagal. Gartner Group menyatakan bahwa 75% proyek TI di Amerika Serikat gagal. Di Indonesia pada tahun 2003 majalah SWA membuat pernyataan berdasarkan survei bahwa 75% proyek TI di Indonesia gagal. Penyebab kegagalan bermacam-macam antara lain ketidakmampuan dalam project planning, project management, requirement management, risk management dan change management. Ketidak mampuan dalam melihat TI dari kacamata bisnis juga dapat menyebabkan kegagalan proyek. Secara keseluruhan kurang atau bahkan tidak adanya IT Master Plan atau IT Strategic Planning juga berperan secara signifikan dalam kegagalan sebuah proyek.


Pada bulan Mei 2003, artikel Nick J. Carr yang berjudul “IT Doesn’t Matter” di Harvard Business Review sempat menimbulkan polemik berkepanjangan. Tak urung banyak praktisi ataupun pengamat TI seperti John Hagel, Paul Strassman, Warren McFarlan turut berdebat. Lewat tulisan ini, Nick berujar bahwa sebenarnya saat ini TI bukan lagi diferensiasi yang memberi keunggulan kompetitif bagi perusahaan. Ia melihat TI telah menjadi komoditas dan bukan merupakan diferensiasi lagi. TI tak ubahnya perangkat infrastruktur lain seperti listrik ataupun rel kereta api. Lebih lanjut Nick juga menyarankan agar perusahaan lebih baik menjadi follower dan menghindari inovasi dengan memaksakan diri menjadi leader dalam hal berinvestasi TI.

Kesemua hal ini menyebabkan banyaknya perusahaan memposisikan TI sebagai Cost Center. Sebagai akibatnya berbagai macam cara digunakan untuk memangkas biaya TI di perusahaan termasuk salah satu diantaranya adalah IT Outsourcing. Namun demikian IT Outsourcing bukanlah solusi karena ternyata berdasarkan survey Gartner Group 50% proyek “IT Outsourcing” gagal. Kegagalan terjadi karena kurangnya komunikasi dan pemantauan secara periodik atau dengan kata lain ketidakmampuan dalam project management.

Sebenarnya secara umum ada 3 hal penyebab kegagalan proyek pengembangan perangkat lunak yaitu:

1.     Tidak adanya IT Master Plan atau IT Strategic Planning dari perusahaan. Dalam beberapa kasus biasanya juga tidak terdapat posisi CIO(Chief Information Officer) atau CTO(Chief Technology Officer) dalam perusahaan.

2.     Fokus profesional TI hanyalah pada Tools, sehingga Methodologies dan Procedures biasanya diabaikan. Dalam berbagai kasus profesional TI tidak mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang memadai dalam metodologi manajemen, proyek-proyek TI juga biasanya tidak mengacu kepada prosedur standar.

3.     Profesional TI tidak berorientasi bisnis sehingga jarang sekali melihat TI dari kacamata bisnis perusahaan. Dalam perusahaan biasanya hanya CIO atau CTO lah yang berorientasi bisnis dan bisa melihat TI dari kacamata bisnis perusahaan, namun demikian sebenarnya profesional TI haruslah mempunyai orientasi bisnis walaupun seminim mungkin.

Solusi umum untuk mengurangi kemungkinan kegagalan proyek pengembangan perangkat lunak mungkin bisa dilakukan dengan cara-cara berikut ini:

1.     Posisi CIO atau CTO haruslah ada dalam perusahaan sehingga ada yang berbicara mewakili TI kepada CEO dan implementasi TI didukung penuh dari kalangan direksi.

2.     IT Master Plan atau IT Strategic Planning haruslah ada. Perencanaan ini dibuat oleh CIO atau CTO. Perencanaan ini merupakan perencanaan keseluruhan TI untuk perusahaan dan dibuat berdasarkan kacamata bisnis perusahaan.

3.     Profesional TI harus mempunyai pengetahuan dalam hal metodologi baik itu metodologi teknis maupun metodologi management seperti : IBM Rational Unified Process, Microsoft Solution Framework, Agile Development, Extreme Programming, UML, Design Pattern, Project Planning, Project Management, Requirement Managemen, Risk Management dan Change Management.

4.     Selain itu kerja profesional TI harus mengacu kepada prosedur suatu standar agar dapat dikendalikan dan diprediksi hasilnya. Standar yang diambil bisa merupakan standar internasional seperti CMM(Capability Maturity Model) atau ISO. Memang standard tidak bisa diambil penuh secara mutlak namun harus dimodifikasi agar sesuai dengan kondisi perusahaan.

5.     Profesional TI haruslah mempunyai pengetahuan dalam domain bisnis perusahaan dan haruslah mampu melihat TI dari kacamata bisnis perusahaan. Sebagai contoh Profesional TI mungkin harus diberi pelatihan mengenai Teori Kompetisi Michael Porter, perhitungan ROI(Return of Investment) dan Information Economics. Source from :  Anugerah Sentot Sudono (nugysemail@yahoo.com – nugys.blogetery.com)

Sumber: itkelinik

0 komentar:

Posting Komentar

 

erk^chubz~zone Copyright © 2009 Baby Shop is Designed by Ipietoon Sponsored by Emocutez